Tuesday, 2 June 2015

Aku Percaya, Aku Dapat.

Sejak pertama aku buka pintu itu, aku tahu akan banyak hal tidak biasa yang melewatinya. Sejak aku biarkan kamu memilikinya, aku tahu kamu akan melakukannya dengan cara yang tidak biasa. Sejak pertama aku rasakan, aku tahu akan banyak rasa tidak biasa di dalamnya. Hal-hal tidak biasa yang belum pernah aku lihat dan aku rasakan sebelum kamu lewati pintu itu, berusaha memiliki hal-hal di dalamnya, dan  membuatku ingin ikut merasakan apa yang kamu rasakan.
Aku tengok posisiku sekarang, aku hanya mampu tersenyum. Aku lihat orang-orang memandang disekeliling kita, sekali lagi aku hanya tersenyum. Namun senyum itu menjadi lebih lebar sekarang. Dulu aku tak pernah memikirkan rasa bahagia ini. Bahkan aku tak memiliki pemikiran apapun tentang hari ini dan seterusnya, dulu. Tapi Ia selalu menjawab pertanyaanku dengan hal-hal sederhana, yang teramat membahagiakan. Banyak yang ingin aku melangkah mundur sejak dulu, bukan karena iri, mereka hanya terlalu mengkhawatirkan segala keputusanku. Tapi aku hanya mampu membalasnya dalam hati “Apa salahnya aku percaya?”. Aku hanya tahu setiap orang memiliki waktu dan kesempatan, mungkin aku hanya perlu bersabar dan menunggu hingga tiba waktuku—waktu kita.
Aku biarkan semua berjalan dalam alurnya, tanpa paksaan, tanpa dibuat-buat. Kalian tahu? Pria itu yang ajarkan. Biarkan semua yang terlalui dengan ketulusan hati. Hal baik atau hal buruk pun biarkan dia lakukan dengan kemauannya, sepenuh hati. Karena sungguh, aku telah serahkan seisi hatiku kepada pemilik-Nya. Aku hanya percaya kepada takdirNya. Jika Ia ingin bersama maka akan bersama, jika Ia ingin terpisah maka akan terpisah. Dulu terlihat tak begitu baik memang, tapi kalian tidak tahu hal yang “tak begitu baik” itulah yang mengubahku selalu lebih baik. Dan ku pikir itu lah alasanNya, agar aku selalu menjadi lebih baik. Dan bukan lagi sekedar air mata, ada kebahagian yang lebih besar setelahnya. Dan sungguh aku tak mampu menghitung nikmatNya.
Benar memang, bersyukur akan menjadi pemecah masalah dalam diam. Sesederhana itu. Cara yang tak pernah terbayangkan dalam benakku, dan mungkin benak siapapun. Tapi kini aku selalu meyakininya, mematrinya apik-apik dalam hatiku. Jika kalian ingin melakukannya, jangan pernah takut. Kalian tidak akan terlihat sebodoh yang mereka pikir dimataNya. Bukan kah itu hakikat sesungguhnya? Ia yang paling tahu hatimu, Ia yang sesungguhnya tahu kebaikan dan keburukan di hatimu lebih dari dirimu sendiri. Dan saat semua menjadi amat jauh lebih baik, mereka hanya mampu memandangi kalian. Bukan lagi sekedar pandangan, tapi tersempil doa baik di dalamnya. Dan sekali lagi, aku hanya mampu tersenyum dan bersyukur “Alhamdulillah untuk segala hal yang Kau titipkan, aku akan menjaganya sepenuh hati”. Lalu apakah sudah tiba waktu kita? Belum, sungguh belum. Masih banyak yang harus kita perbaiki, bersama.

Saat berhenti tak menjadi pilihan, memperbaiki diri bukan lah hal sia-sia
Jika kamu percaya...