Sejak pertama
aku buka pintu itu, aku tahu akan banyak hal tidak biasa yang melewatinya.
Sejak aku biarkan kamu memilikinya, aku tahu kamu akan melakukannya dengan cara
yang tidak biasa. Sejak pertama aku rasakan, aku tahu akan banyak rasa tidak
biasa di dalamnya. Hal-hal tidak biasa yang belum pernah aku lihat dan aku
rasakan sebelum kamu lewati pintu itu, berusaha memiliki hal-hal di dalamnya,
dan membuatku ingin ikut merasakan apa
yang kamu rasakan.
Aku tengok
posisiku sekarang, aku hanya mampu tersenyum. Aku lihat orang-orang memandang
disekeliling kita, sekali lagi aku hanya tersenyum. Namun senyum itu menjadi
lebih lebar sekarang. Dulu aku tak pernah memikirkan rasa bahagia ini. Bahkan
aku tak memiliki pemikiran apapun tentang hari ini dan seterusnya, dulu. Tapi Ia
selalu menjawab pertanyaanku dengan hal-hal sederhana, yang teramat
membahagiakan. Banyak yang ingin aku melangkah mundur sejak dulu, bukan karena
iri, mereka hanya terlalu mengkhawatirkan segala keputusanku. Tapi aku hanya
mampu membalasnya dalam hati “Apa salahnya aku percaya?”. Aku hanya tahu setiap
orang memiliki waktu dan kesempatan, mungkin aku hanya perlu bersabar dan
menunggu hingga tiba waktuku—waktu kita.
Aku biarkan
semua berjalan dalam alurnya, tanpa paksaan, tanpa dibuat-buat. Kalian tahu? Pria
itu yang ajarkan. Biarkan semua yang terlalui dengan ketulusan hati. Hal baik
atau hal buruk pun biarkan dia lakukan dengan kemauannya, sepenuh hati. Karena
sungguh, aku telah serahkan seisi hatiku kepada pemilik-Nya. Aku hanya percaya
kepada takdirNya. Jika Ia ingin bersama maka akan bersama, jika Ia ingin
terpisah maka akan terpisah. Dulu terlihat tak begitu baik memang, tapi kalian
tidak tahu hal yang “tak begitu baik” itulah yang mengubahku selalu lebih baik.
Dan ku pikir itu lah alasanNya, agar aku selalu menjadi lebih baik. Dan bukan
lagi sekedar air mata, ada kebahagian yang lebih besar setelahnya. Dan sungguh
aku tak mampu menghitung nikmatNya.
Benar memang,
bersyukur akan menjadi pemecah masalah dalam diam. Sesederhana itu. Cara yang
tak pernah terbayangkan dalam benakku, dan mungkin benak siapapun. Tapi kini
aku selalu meyakininya, mematrinya apik-apik dalam hatiku. Jika kalian ingin
melakukannya, jangan pernah takut. Kalian tidak akan terlihat sebodoh yang
mereka pikir dimataNya. Bukan kah itu hakikat sesungguhnya? Ia yang paling tahu
hatimu, Ia yang sesungguhnya tahu kebaikan dan keburukan di hatimu lebih dari
dirimu sendiri. Dan saat semua menjadi amat jauh lebih baik, mereka hanya mampu
memandangi kalian. Bukan lagi sekedar pandangan, tapi tersempil doa baik di
dalamnya. Dan sekali lagi, aku hanya mampu tersenyum dan bersyukur
“Alhamdulillah untuk segala hal yang Kau titipkan, aku akan menjaganya sepenuh
hati”. Lalu apakah sudah tiba waktu kita? Belum, sungguh belum. Masih banyak
yang harus kita perbaiki, bersama.
Saat berhenti tak menjadi pilihan,
memperbaiki diri bukan lah hal sia-sia
Jika kamu percaya...